Zaman sekarang uang Rp.50.000,- terkadang bisa habis dalam beberapamenit. Apa yang bisa anda dapat?
Kini.....Hanya dengan Menginstall SoftwareIni ke PC / Komputer / Laptop
Anda, dan Melakukan Sedikit "TRIK RAHASIA", Maka Saldo Rekening Bank
Anda Akan Bertambah Ratusan Ribu Hingga Jutaan Rupiah Per Hari..!! Hanya
dengan modal Rp. 50.000,- Tunggu apa lagi... Ayo buruan. Kesempatan
tidak datang 2x. Buat sobat-sobat yang ingin berlajar bisnis online
dengan modal kecil tapi hasil nyata, ini yang ditunggu2.... Buruan Cara aplikasi mudah, bisa diwarnet ataupun dirumah.
Tampilkan postingan dengan label facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label facebook. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Juli 2015
Minggu, 17 Mei 2015
Rsi Canakya
Dua Kitab Karya Acarya Canakya
Dalam film kolosal Ashoka, salah satu tokoh yang dihormati adalah Rsi Canakya (Acarya Canakya). Rsi Canakya merupakan seorang Brahmana yang menjadi perdana menteri di kerajaan Magada. Rsi Canakya juga disebut dengan nama lain yaitu Visnu Gupta dan Kautilya, pendiri dinasti Maurya bersama Chandra Gupta.
Sebelum dinasty Maurya berkuasa, dinasti yang berkuasa sebelumya adalah dinasti Nanda. Dinasti Nanda dimusnahkan sampai ke akar-akarnya oleh Rsi Canakya akibat penghinaan yang dilakukan oleh seorang raja dinasti Nanda.
Setelah dinasti Nanda dimusnahkan, kemudian mendirikan dinasti Maurya yang menjadi raja adalah Candra Gupta, raja agung yang berwibawa. Dibawah bimbingan perdana menteri Acarya Canakya kerajaan Magada semakin meluas. Di bawah pimpinan Chandra Gupta dan perdana menteri Canakya, Magada mampu menghalau musuh asing yang dipimpin Alexander Agung dari Yunani. Setelah Candra Gupta, tahta Magada dilanjutkan oleh raja Bindusara, ayah dari raja Ashoka.
Rsi Canakya pada masa hidupnya dipercaya menulis ulang kitab ilmu pemerintahan yang pernah menghilang yaitu kitab Arthasastra. Hingga saat ini kita bisa menemukan kitab yang diyakini ditulis oleh Acarya Canakya yaitu kitab Kautilya Arthasastra. Kitab ini lembarannya ditemukan pada tahun 1905 Masehi. Isi dari kitab ini mirip dengan kitab Dharmasastra, hanya saja isinya tidak teratur. Dalam satu sloka kadang terdiri dari banyak kata, terkadang hanya terdiri beberapa kalimat, sedangkan Dharmasastra isinya teratur yang disusun dalam bentuk prosa.
Selain kitab Kautilya Arthasastra, dikenal pula kitab Canakya Niti Sastra yang dipercaya hasil karya Acarya Canakya. Di dalam kitab Canakya Niti Sastra disebutkan nama kitab ini disebut Raja Niti Samuccaya, namun kitab ini populer sesuai nama penyusunnya, Canakya.
Isi dari kitab Canakya Niti Sastra tidak seberat isi kitab Arthasastra yang membutuhkan kemampuan untuk mengurainya. Jika kitab Kautilya Arthasastra berisi tentang pemerintahan, militer, ilmu magis, hukum pidana, dll, maka kitab Canakya Niti Sastra berisi tentang tata krama atau etika dalam kehidupan sehari-hari. Isinya cukup sederhana dan hanya terdiri diri 12 Adyaya/bab. Besar kemungkinan, kitab Canakya Niti Sastra disadur ketika masa kerajaan Majapahit akhir, populer dengan nama kitab Niti Sastra. Isinya memang agak berbeda, namun esensinya sama.
Ada beberapa kitab lainnya yang diyakini ditulis oleh Acarya Canakya, namun yang populer hanya dua di atas. Di bawah ini saya kutipkan sloka dari kedua kitab tersebut sebagai berikut:
“Jika ( istri ) meninggalkan rumah suami, pergi ke desa lain, denda adalah dua belas pana maupun kehilangan pemberian dan perhiasan” (Kautilya Arthasastra, IV.3.59.16). “Atau jika ia pergi ditemani pria dengan siapa memungkinkan dilakukan hubungan seks, denda akan dua puluh empat pana dan kehilangan semua hak, kecuali pemberian nafkah dan pendekatan selama masa itu” (Kautilya Arthasastra, IV.3.59. 17).
“Pemakaian ilmu sihir pengasih-asih dizinkan terhadap istri yang tidak menyukai (suaminya) atau terhadap gadis oleh peminangnya atau terhadap suami oleh istrinya” (Kautilya Arthasastra IV.XIII.88.9).
Saringlah amerta meskipun ada dalam racun. Ambillah emas meskipun ada di dalam kotoran. Pelajarilah ilmu pengetahuan keinsyafan diri meskipun dari seorang anak kecil atau orang berkelahiran rendah. Dan juga meskipun seorang wanita lahir dari keluarga jahat dan hina, tetapi kalau dia berkelakuan mulia bijaksana, ia patut diambil sebagai istri. (Canakya Niti Sastra I.16).
Dari pohon dosa diri sendiri orang mendapatkan buah berupa kemiskinan, penyakit, kedukaan, ikatan, dan kebiasaan buruk. (Canakya Niti Sastra XIV.1)
Orang menjadi utama karena sifat-sifat baiknya, walaupun duduk ditempat yang rendah. Apakah burung gagak bisa disebut sebagai garuda hanya karena ia hinggap di puncak istana yang megah? (Canakya Niti sastra XVI.6)
Dalam film kolosal Ashoka, salah satu tokoh yang dihormati adalah Rsi Canakya (Acarya Canakya). Rsi Canakya merupakan seorang Brahmana yang menjadi perdana menteri di kerajaan Magada. Rsi Canakya juga disebut dengan nama lain yaitu Visnu Gupta dan Kautilya, pendiri dinasti Maurya bersama Chandra Gupta.
Sebelum dinasty Maurya berkuasa, dinasti yang berkuasa sebelumya adalah dinasti Nanda. Dinasti Nanda dimusnahkan sampai ke akar-akarnya oleh Rsi Canakya akibat penghinaan yang dilakukan oleh seorang raja dinasti Nanda.
Setelah dinasti Nanda dimusnahkan, kemudian mendirikan dinasti Maurya yang menjadi raja adalah Candra Gupta, raja agung yang berwibawa. Dibawah bimbingan perdana menteri Acarya Canakya kerajaan Magada semakin meluas. Di bawah pimpinan Chandra Gupta dan perdana menteri Canakya, Magada mampu menghalau musuh asing yang dipimpin Alexander Agung dari Yunani. Setelah Candra Gupta, tahta Magada dilanjutkan oleh raja Bindusara, ayah dari raja Ashoka.
Rsi Canakya pada masa hidupnya dipercaya menulis ulang kitab ilmu pemerintahan yang pernah menghilang yaitu kitab Arthasastra. Hingga saat ini kita bisa menemukan kitab yang diyakini ditulis oleh Acarya Canakya yaitu kitab Kautilya Arthasastra. Kitab ini lembarannya ditemukan pada tahun 1905 Masehi. Isi dari kitab ini mirip dengan kitab Dharmasastra, hanya saja isinya tidak teratur. Dalam satu sloka kadang terdiri dari banyak kata, terkadang hanya terdiri beberapa kalimat, sedangkan Dharmasastra isinya teratur yang disusun dalam bentuk prosa.
Selain kitab Kautilya Arthasastra, dikenal pula kitab Canakya Niti Sastra yang dipercaya hasil karya Acarya Canakya. Di dalam kitab Canakya Niti Sastra disebutkan nama kitab ini disebut Raja Niti Samuccaya, namun kitab ini populer sesuai nama penyusunnya, Canakya.
Isi dari kitab Canakya Niti Sastra tidak seberat isi kitab Arthasastra yang membutuhkan kemampuan untuk mengurainya. Jika kitab Kautilya Arthasastra berisi tentang pemerintahan, militer, ilmu magis, hukum pidana, dll, maka kitab Canakya Niti Sastra berisi tentang tata krama atau etika dalam kehidupan sehari-hari. Isinya cukup sederhana dan hanya terdiri diri 12 Adyaya/bab. Besar kemungkinan, kitab Canakya Niti Sastra disadur ketika masa kerajaan Majapahit akhir, populer dengan nama kitab Niti Sastra. Isinya memang agak berbeda, namun esensinya sama.
Ada beberapa kitab lainnya yang diyakini ditulis oleh Acarya Canakya, namun yang populer hanya dua di atas. Di bawah ini saya kutipkan sloka dari kedua kitab tersebut sebagai berikut:
“Jika ( istri ) meninggalkan rumah suami, pergi ke desa lain, denda adalah dua belas pana maupun kehilangan pemberian dan perhiasan” (Kautilya Arthasastra, IV.3.59.16). “Atau jika ia pergi ditemani pria dengan siapa memungkinkan dilakukan hubungan seks, denda akan dua puluh empat pana dan kehilangan semua hak, kecuali pemberian nafkah dan pendekatan selama masa itu” (Kautilya Arthasastra, IV.3.59. 17).
“Pemakaian ilmu sihir pengasih-asih dizinkan terhadap istri yang tidak menyukai (suaminya) atau terhadap gadis oleh peminangnya atau terhadap suami oleh istrinya” (Kautilya Arthasastra IV.XIII.88.9).
Saringlah amerta meskipun ada dalam racun. Ambillah emas meskipun ada di dalam kotoran. Pelajarilah ilmu pengetahuan keinsyafan diri meskipun dari seorang anak kecil atau orang berkelahiran rendah. Dan juga meskipun seorang wanita lahir dari keluarga jahat dan hina, tetapi kalau dia berkelakuan mulia bijaksana, ia patut diambil sebagai istri. (Canakya Niti Sastra I.16).
Dari pohon dosa diri sendiri orang mendapatkan buah berupa kemiskinan, penyakit, kedukaan, ikatan, dan kebiasaan buruk. (Canakya Niti Sastra XIV.1)
Orang menjadi utama karena sifat-sifat baiknya, walaupun duduk ditempat yang rendah. Apakah burung gagak bisa disebut sebagai garuda hanya karena ia hinggap di puncak istana yang megah? (Canakya Niti sastra XVI.6)
- Sugianta Nirawana Berarti kerajaan magada sejaman dengan mahabrata ya, waktu film mahabrata krisna bilang magada jg, saya baru tau kitab niti sastra berawal dari acarya canakya jd nambah ilmu tanks mupu
I Ketut Merta Mupu Bukan
sejaman, melainkan kelanjutannya. Pada waktu pemerintahan Astina,
Magada hanya kerajaan kecil, akan tetapi ketika memsuki Kali Yuga atau
setelah masa epik mahabharata, kerajaan Magada pindah kota ke
Pataliputra
Rabu, 06 Mei 2015
Ajeg bali??
"Ajeg bali"
"Bali not for sale"
Tau ga...tanah di bali sudah 21persen dimiliki oleh orang dari luar bali. Jika kita dengan bangga terus menjual dan menjual pada orang luar bali..maka..siap siaplah kita untuk transmigrasi.
Tengoklah beberapa saudara kita yg tanahnya dijual untuk dijadikan hotel..hanya bebetapa puluh tahun merrka sudah menjadi gelandangan. Bayangkan...harga tanah 1are 3M...siapa warga bali yg sanggup beli.???.
Berapapun harga tanah di bali akan dibeli oleh orang luar.
Selamat menjadi babu di rumah sendiri jika terus menjual tanah pada orang di luar bali.
Pola pikir orng yg baru habis jualan.
1 digunakan untuk membeli satu unit rumah kecil
2dipergunakan untuk membagusi rumahnya mskipun masih bagus.
3.perbaiki sanggah merajan. Terus ngodalan dengan besar besaran.
4.membeli mobil impian.
5.ngibur siang malam. Siang tajen..malam cafe.
6 buat usaha kecil .tp ga tau cara nembangninya.
8 usaha bangkrut..jual rumah yg dibeli pertama.
9 uang habis jual rumah habis... jual mobil.beli sepeda motor
10. Uangnya juga habis.semua habis..rambutpun habis.
Akhirnaya ngelamar kerja di hotel yg sesungguhnya dulu tanah itu adalah miliknya.
Bikin sesak nafas setiap masuk ke hotel itu.
Ashma kambuh .nyesek ..makin kurus..sakit sakitan..ga af uang buat berobat..
W A F A T.
Minggu, 03 Mei 2015
wkwkwkwkwk
Cerita Suami Istri Di Awal Bulan:
Suami : Luh.., ini Bli ada uang Rp. 50.000, dicukupin ya buat seminggu, syukur-syukur bisa buat sebulan...
Istri : lya Bli.., tenang aja.. Buat setahun juga bisa..
Suami : Duhhh.., Bli beruntung banget ya punya istri Luh. Udah, baik.., cantik.., pintar bikin hemat lagi.. Pokoknya Bli bangga banget ma Luh.., Luh.
Istri : Iya Bli.., makasi atas pujiannya..
Suami : Tapi ngomong-ngomong Luh.., uang Rp. 50.000 itu dibeliin apa aja kok bisa sampai buat setahun..?
Istri : Dibeliin KAALENNDEERR Bli...!
Suami : Luh.., ini Bli ada uang Rp. 50.000, dicukupin ya buat seminggu, syukur-syukur bisa buat sebulan...
Istri : lya Bli.., tenang aja.. Buat setahun juga bisa..
Suami : Duhhh.., Bli beruntung banget ya punya istri Luh. Udah, baik.., cantik.., pintar bikin hemat lagi.. Pokoknya Bli bangga banget ma Luh.., Luh.
Istri : Iya Bli.., makasi atas pujiannya..
Suami : Tapi ngomong-ngomong Luh.., uang Rp. 50.000 itu dibeliin apa aja kok bisa sampai buat setahun..?
Istri : Dibeliin KAALENNDEERR Bli...!
Gebogan
Cara membuatnya
1. siapkan dulang sebagai tempat.
2. lubangi dulang ditengahnya (beli yg sudah berlubang)
3. tancapkan batang pisang yang cocok tidak tua juga tidak terlalu muda
4. siapkan lidi untuk menusuk buah/jajan/sampyan (hiasan dari janur)
5. pilih buah yang ukurannya sama lalu tusuk dan tancapkan di batang pisang
6. bahan yang ringan di bagian atas
7. bunga di puncak
Sabtu, 02 Mei 2015
SANGHYANG DEDARI
15 jam ·
Sore
itu hujan masih saja turun membasahi bumi, ada keraguan untuk berangkat
ke Karangasem mengabadikan tarian ini atau menunggu tahun depan.
Kesepakatan akhirnya memutuskan untuk "gambling" coba saja berangkat kalau tetap hujan dan tidak menari paling tidak kita tahu lokasi desanya dimana, karena jujur saya sama sekali belum pernah kesana.
Setengah tujuh malam ketika kami sampai disana, tanah masih basah dan hujan masih rintik rintik, kami bertemu dengan 3 anak perempuan yang sedang sembahyang ke Pura Puseh, ternyata dua diantara mereka adalah penari Sanghyang Dedari sedangkan satunya lagi adalah perias mereka, dari mereka kami mendapatkan konformasi bahwa mereka akan menari sekitar pukul 20.00 WITA. ketika kami mohon iji untuk boleh memotret saat mereka di rias mereka dengan senang hati mempersilahkan datang ke rumah salah satu penari tersebut dimana mereka akan dirias.
Kesepakatan akhirnya memutuskan untuk "gambling" coba saja berangkat kalau tetap hujan dan tidak menari paling tidak kita tahu lokasi desanya dimana, karena jujur saya sama sekali belum pernah kesana.
Setengah tujuh malam ketika kami sampai disana, tanah masih basah dan hujan masih rintik rintik, kami bertemu dengan 3 anak perempuan yang sedang sembahyang ke Pura Puseh, ternyata dua diantara mereka adalah penari Sanghyang Dedari sedangkan satunya lagi adalah perias mereka, dari mereka kami mendapatkan konformasi bahwa mereka akan menari sekitar pukul 20.00 WITA. ketika kami mohon iji untuk boleh memotret saat mereka di rias mereka dengan senang hati mempersilahkan datang ke rumah salah satu penari tersebut dimana mereka akan dirias.
Perasaan senang dan gembira ketika kami sampai di rumah itu bertemu
dengan orang tua mereka dan mengobrol bersama mereka serta kami di
berikan nomor HP beliau untuk bisa di kontak sewaktu waktu ada acara
budaya disana, ternyata masyarakat disana senang bisa menerima teman
teman seperti kami untuk bisa mengabadikan budaya mereka yang hampir
punah ini.
Jam delapan lebih sedikit ke empat penari cilik ini di ajak ke salah satu pura untuk "ngukup" yaitu untuk memanggil roh suci Bidadari untuk emrasuki raga mereka, hanya yang perempuan saja boleh masuk dan menemani mereka sedangkan yang laki harus menunggu di luar.
Sangyang dedari
Di tarikan oleh 4 orang gadis yang belum menginjak dewasa, yang juga di mohonkan untuk menari di batang bambu yang menjulang kurang lebih 7 mtr dengan iringan lagu rohani pula.
Tarian sakral ini di tujukan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang turun bermanipestasi sebagae Dewi Seri agar melimpahkan karuniaNya pada Padi padi yang di tanam dengan hasil yang melimpah tanpa hama.
Setelah kurang lebih 20-30 menit di dalam Pura tiba tiba para wanita separuh baya berlarian sambil menggotong penari penari ini yang sudah tidak sadarkan diri untuk dibawa ke perempatan. Setelah semua disiapkan sedemikian rupa, mulailah para ibu ibu bernyanyi menyanyikan lagu-lagu lama dengan berbahasa Bali tanpa musik satupun.
Para penari mulai berdiri dan berlarian tanpa alas kaki di tanah berbatu ...kemudian taraian mereka pun terlihat , merunduk, mengepakkan sayap dgn mata tertutup.
Para penari ini sangat peka ..sedikit saja ada suara maka mereka atau salah satu diantara mereka akan mencari sumber suara tersebut dan mengibaskan selendangnya untuk tidak bersuara, atau saat salahs atu dari kami berdiri untuk mengambil gambar dgn angel atas mereka datang dan mengibas ngibaskan seendangnya untuk duduk tidak boleh berdiri. Tetua yang ada di sebelah saya mengatakan ketika Dedari itu menghampiri dna mngibaskan selendangnya kita harus mengikuti kalau tidak mereka akan ngambek atau pergi dan tidak mau menari.....
Lampu yang ada hanyalah lampu satu lampu mercuri sebagai peneranagn disana, kami sama sekali tidak diijinkan untuk menggunakan flash/cahaya karena akan mengganggu prosesi acara mereka.
Beberapa lelaki datang membantu dgn membawa dua bamboo berukuran besar danntinggi antara 7-8 meter dan di pancangan di tanah..dua penari Sanghyang dedari kemudian menghampiri bambu tersebut dan mulai memanjat dengan lincahnya.. dan sesampai di atas mereka menari tanpa takut akan jatuh. Setelah itu sekitar 35-45 menitan bambu tersebut di terlentangkan dna para penari menari dgn gaya kayang dgn kegemulaian badannya.
Sekitar 15 menit gerakan tersebut dilakukan bergantian, tiba -tiba mereka berlarian menuju ke arah salah satu pura kurang lebih 100m dari tempat kami memotret, jalannya gelap dan berbatu serta tidak rata. Kami membayangkan bagaimana mereka bisa berlari dgn mata tertutup di bebatuan tersebut menuju pura tanpa satupun penerangan, sedangkan kami ketika mengikuti dgn berjalan kaki dan memakai senter saja kesusahan, rasa penasaran dan suasana magis masih terasa ketika kami sampai di Pura.
Para Dedari ini berlarian dan berlompatan menaiki tembok tebok pembatas pura, dan anehnya tidak satupun kaki mereka terluka setelah berlari tadi.
Kurang lebih 20 menit prosesi di pura ini kemudian mereka di sadarkan dengan memercikkan air suci dari pemangku setempat, terlihat kelelahan di mata mereka.
Kami pamit pulang sekitar jam 23.26 dari lokasi ini.
Sebuah desa yang asri dengan penduduk yang ramah....kami akan kembali.
Semua poto poto disini diambil dengan camera SONY ILCE 6000
Lensa fix 35
Jam delapan lebih sedikit ke empat penari cilik ini di ajak ke salah satu pura untuk "ngukup" yaitu untuk memanggil roh suci Bidadari untuk emrasuki raga mereka, hanya yang perempuan saja boleh masuk dan menemani mereka sedangkan yang laki harus menunggu di luar.
Sangyang dedari
Di tarikan oleh 4 orang gadis yang belum menginjak dewasa, yang juga di mohonkan untuk menari di batang bambu yang menjulang kurang lebih 7 mtr dengan iringan lagu rohani pula.
Tarian sakral ini di tujukan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang turun bermanipestasi sebagae Dewi Seri agar melimpahkan karuniaNya pada Padi padi yang di tanam dengan hasil yang melimpah tanpa hama.
Setelah kurang lebih 20-30 menit di dalam Pura tiba tiba para wanita separuh baya berlarian sambil menggotong penari penari ini yang sudah tidak sadarkan diri untuk dibawa ke perempatan. Setelah semua disiapkan sedemikian rupa, mulailah para ibu ibu bernyanyi menyanyikan lagu-lagu lama dengan berbahasa Bali tanpa musik satupun.
Para penari mulai berdiri dan berlarian tanpa alas kaki di tanah berbatu ...kemudian taraian mereka pun terlihat , merunduk, mengepakkan sayap dgn mata tertutup.
Para penari ini sangat peka ..sedikit saja ada suara maka mereka atau salah satu diantara mereka akan mencari sumber suara tersebut dan mengibaskan selendangnya untuk tidak bersuara, atau saat salahs atu dari kami berdiri untuk mengambil gambar dgn angel atas mereka datang dan mengibas ngibaskan seendangnya untuk duduk tidak boleh berdiri. Tetua yang ada di sebelah saya mengatakan ketika Dedari itu menghampiri dna mngibaskan selendangnya kita harus mengikuti kalau tidak mereka akan ngambek atau pergi dan tidak mau menari.....
Lampu yang ada hanyalah lampu satu lampu mercuri sebagai peneranagn disana, kami sama sekali tidak diijinkan untuk menggunakan flash/cahaya karena akan mengganggu prosesi acara mereka.
Beberapa lelaki datang membantu dgn membawa dua bamboo berukuran besar danntinggi antara 7-8 meter dan di pancangan di tanah..dua penari Sanghyang dedari kemudian menghampiri bambu tersebut dan mulai memanjat dengan lincahnya.. dan sesampai di atas mereka menari tanpa takut akan jatuh. Setelah itu sekitar 35-45 menitan bambu tersebut di terlentangkan dna para penari menari dgn gaya kayang dgn kegemulaian badannya.
Sekitar 15 menit gerakan tersebut dilakukan bergantian, tiba -tiba mereka berlarian menuju ke arah salah satu pura kurang lebih 100m dari tempat kami memotret, jalannya gelap dan berbatu serta tidak rata. Kami membayangkan bagaimana mereka bisa berlari dgn mata tertutup di bebatuan tersebut menuju pura tanpa satupun penerangan, sedangkan kami ketika mengikuti dgn berjalan kaki dan memakai senter saja kesusahan, rasa penasaran dan suasana magis masih terasa ketika kami sampai di Pura.
Para Dedari ini berlarian dan berlompatan menaiki tembok tebok pembatas pura, dan anehnya tidak satupun kaki mereka terluka setelah berlari tadi.
Kurang lebih 20 menit prosesi di pura ini kemudian mereka di sadarkan dengan memercikkan air suci dari pemangku setempat, terlihat kelelahan di mata mereka.
Kami pamit pulang sekitar jam 23.26 dari lokasi ini.
Sebuah desa yang asri dengan penduduk yang ramah....kami akan kembali.
Semua poto poto disini diambil dengan camera SONY ILCE 6000
Lensa fix 35
Langganan:
Postingan (Atom)















































