Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2015

pemenang pembacaan Bhagavad Gita






Mumbai-India—Baru-baru ini berbagai media di india dihebohkan dengan berita seorang gadis muslim menjadi juara dalam Gita Champions’ League (sebuah kompetisi menguji pengetahuan yang ada  Bhagavad Gita,ed). Gadis berusia 12 tahun itu bernama Maryam Siddiqui.
Kontes tahunan yang diadakan oleh Iskcon Chowpatty ini diikuti oleh lebih dari 4800 peserta (berusia mulai dari 10 s.d. 16 tahun, ed) yang berasal 100 lebih sekolah dari berbagai negara bagian Maharastra. Karena mendapatkan nilai tertinggi, gadis ini diganjar dengan hadiah 5000 rupee.
"Saya selalu ingin tahu tentang berbagai agama dan saya sering membaca tentang berbagai agama ini  jika ada waktu senggang. Jadi, ketika guru saya memberitahukan kontes ini kepada saya, saya pikir ini  kesempatan yang baik untuk memahami apa isi buku (Bhagavad Gita, ed) ini. Orang tua saya juga mendukung ide untuk ikut berpartisipasi dalam kontes ini," ujar Maryam, yang menerima hadiah pada tanggal 15 Maret 2015 kemarin.
Melihat apresiasi maryam akan perbedaan antaragama (interfaith appreciation) sebagai suatu contoh yang baik (dalam hidup di dalam kemajemukan, ed), Perdana menteri Negara Bagian Uttar Pradesh (UP) Akhilesh Yadav ikut memberikan penghargaan kepada Maryam dengan membarikan hadiah 11 lakh (1,1 juta) rupee. Maryam, putri dari pasangan Asif dan Farhan Siddiqui, segera mengembalikan uang kepada pemerintah Uttar Pradesh dengan permintaan untuk digunakan dalam mendidik anak-anak yatim piatu dan miskin di Uttar Pradesh. (wow…)

"Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib mereka," katanya. "Saya berterima kasih kepada pemerintah UP karena telah memberikan kehormatan ini pada saya. Bagaimanapun juga, saya memiliki hidup yang layak karena Tuhan telah baik kepada orang tua saya. Tapi ada banyak anak-anak yang tidak seberuntung saya. Jadi, saya telah memutuskan untuk mengembalikan penghargaan uang ini kepada pemerintah sehingga dapat digunakan untuk kemajuan anak-anak yang membutuhkan. "

Maka Sejak itu, Maryam menerima ucapan secara langsung oleh Gubernur Maharashtra Vidyasagar Rao dan Perdana Menteri India Narendra Modi, dan ia menghadiri banyak acara yang diselenggarakan untuk mengucapkan selamat dan mempromosikan ideologinya.

Nah demikianlah seorang gadis muslim membaca Bhagavad Gita dan telah memberikan kontribusi positif kepada masyarakat luas di India, tidak hanya menginspirasi orang-orang Hindu untuk membuka kitab Sucinya, namun juga menginspirasi semua umat akan pentingnya penghargaan kepada keanekaragaman, nah bagaimana dengan kita anak-anak muda hindu di nusantara??. (dwi)

Sumber:


Kamis, 16 Juli 2015

Sai Baba di Arab

https://www.youtube.com/watch?v=sbtvjuoxRIU&app=desktop


Bhagawan Sri Sathya Sai Baba is an...
youtube.com

Penyair dari Arab

Umar-Bin-E-Hassham (paman dari nabi Muhammad SAW) merupakan seorang penyair terkenal dan menulis sajak2 memuja Siwa. Salah satunya bisa ditemukan dlm hal 235 Sair-Ul-Okul:

Kafavomal fikra min ulumin Tab asayru

Kaluwan amataul Hawa was Tajakhru
We Tajakhayroba udan Kalalwade-E Liboawa
Walukayanay jatally, hay Yauma Tab asayru
Wa Abalolha ajabu armeeman MAHADEVA
Manojail ilamuddin minhum wa sayattaru
Wa Sahabi Kay-yam feema-Kamil MINDAY Yauman
Wa Yakulum no latabahan foeennak Tawjjaru
Massayaray akhalakan hasanan Kullahum
Najumum aja- at Summa gabul HINDU

TERJEMAHAN:

Seorang laki2 yg menghabiskan seluruh hidupnya dlm dosa dan imoralitas dan membuang hidupnya demi nafsu dan kemarahan
Jika ia bertobat dan ingin kembali kpd moralitas, adakah pengampunan tersedia baginya ?
Bahkan jika hanya sekali ia dgn tulus memuja Mahadewa, ia bisa mencapai posisi tertinggi dlm jalan kebenaran
Ya Tuhan! Cabut seluruh nyawa saya dan sbg gantinya, berikan saya satu hari saja utk tinggal di Hind (india) sbg lelaki yg menjadi bebas secara spiritual saat mencapai tanah suci. Dgn ziarah ke Hind, seorang lelaki bisa mencapai kebijakan utk melakukan tindakan mulia dan mendapat kehormatan menyentuh guru2 Hindu yg mulia
*(MAHADEVA berarti Dewa SIWA )

Minggu, 28 Juni 2015

Dewa Arsitek

Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.


Dewa Arsitektur

Bhagawan Wiswakarma
Dewa para Undagi (Arsitek)

Oleh: Gede Agus Budi Adnyana,S.Pd.B.,M.Pd.H

            Rumah, istana, mandir (pura), kereta, hingga berbagai jenis senjata dari yang kecil hingga yang kelas kaliber, baik yang terbuat dari bahan kayu, ataupun besi dan sebagainya, dan dikerjakan oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Keseluruhan itu. Dikuasai dan dijiwai oleh kekuatan agung nan suci yang datang dari salah satu Dewa pujaan Hindu bernama Sang Hyang Wiswakarma.
 
            Sang Hyang Wiswakarma sebenarnya adalah salah satu dari sekian banyak Dewa di kahyangan dan tetap sebagai Dewa yang secara organisasi masih berada pada naungan raja dari para dewa yakni Dewa Indra. Mengenai personal dan pribadi beliau, Sang Hyang Wiswakarma sangat mirip dengan Dewa Brahma sang ayahanda dari alam ini.
 
 
            Dalam kitab Ramayana, Sang Hyang Wiswakarma dikatakan memiliki putra yang bernama Nala dan Nila. Seperti ayah mereka Sang Hyang Wiswakarma, Nala dan juga Nila memiliki bakat menjadi sang arsitek terkemuka. Jembatan Situbanda yang memotong samudra Hindia berdiri dengan kokohnya menjadi penghubung tanah Bharatawarsa dengan Lankapura. Jembatan monumental itulah hasil dari rancangan dari arsitek Nala dan Nila, putra sang arsitek para dewa yakni Sang Hyang Wiswakarma.
 
           Dalam kitab Siwa Purana, Dewa Siwa yang hendak menghancurkan kejayaan tiga Raksasa putra Dari Tarakasura yang bernama Tarkasa, Kamalaksa, dan juga Widyunmali, memerlukan sebuah panah yang canggih. Di sanalah Sang Hyang Wiswakarma mendisain panah Pasupata untuk digunakan menghancurkan tiga raksasa tadi.
 
 
            Di tanah Bali, salah satu babad mengatakan bahwa sewaktu terjadi perjanjian antara Ida Dang Hyang Siddhi Mantra dengan Sang Naga Basuki, mengenai kehidupan Manik Angkeran, dan juga hilangnya Mahkota Sang Naga, Sang Hyang Wiswakarma jugalah yang ikut ambil bagian menyelesaikan masalah itu.
            Mahkota Naga Basuki yang termasyur tersebut, merupakan hasil dari rancangan dan buatan dari Sang Hyang Wiswakarma. Ialah arsiteknya para Dewata, insan agung yang memiliki daya cipta kuat dan sakti mengenai segala macam arsitektur yang ada, baik kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
            Ada sebuah doa pujaan yang khusus diperuntukan bagi Sang Hyang Wiswakarma, doa itu ialah :
            Jaya sri Wiswakarma prabhu yaja sri Wiswakarma
            Sakala srsti ke karta raksaka stuti dharma
            Adi srsti main widhi ko sruti upadesa diya
            Jiwa matra ka jaga main, jnana wikasa kiya
            Rsi angira tapa se santi nahin pai
            Dhyana kiyo jaba prabhu ka sakala siddhi pai
            Roga grasta rajane, jaba asrayalina,
            Sankata mocan bana kara, dura duhkha kina
                                                                             Jaya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kisah dibalik gebyar

Kamis, 30 April 2015

peradaban yang berlari

Bumi terbelah menjadi dua, Timur dan Barat. Entah mengapa ada paradigma seperti itu. Namun dari kacamata peradaban, belahan Timur adalah tempat dimana manusia sangat lekat dengan spiritualitas, sedangkan Barat identik dengan materialitas. Spiritualitas identik dengan penggunaan hati, dan materialitas identik dengan logika pikiran.

Itu dahulu.

Sekarang sudah berubah dengan sangat drastis.

Karena Bumi bulat, belahan Barat dan Timur tentu berinteraksi. Keduanya saling mempengaruhi. Barat mengandalkan keterbukaan pikiran dan logika, sehingga kemajuan yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan cenderung materialistis, dalam upaya pencarian nilai-nilai tertinggi peradaban. Kemajuan-kemajuan materialistis Barat berpengaruh kuat terhadap mereka yang hidup di belahan Timur. Sedikit demi sedikit peradaban Timur terkena pengaruh peradaban materialistis Barat. Seperti dua kubu yang sedang balapan, di dunia materialisme Barat berada di depan. Sementara Timur berlari mengejar Barat yang tampak maju secara fisik. Industri di Timur tumbuh, mulai dari Jepang, China, Korea dan India. Indonesia akhirnya berusaha mengubah masyarakatnya, dari masyarakat Maritim dan Pertanian ke masyarakat Industri.

Bagaikan mengejar fatamorgana, Barat perlahan merasakan bahwa yang selama ini mereka cari melalui materialisme ternyata tidak juga ketemu. Ada banyak persaingan dan banyak stres disana. Sebagian dari mereka pergi ke Timur untuk mencari tau barangkali masih ada sisa-sisa peradaban Timur yang berbasis Hati. Dan mereka menemukannya, lalu menggunakannya untuk menyeimbangkan peradaban yang sudah nyaris gila.
Di Timur keadaan kolektifnya makin kencang dalam berlari mengejar Barat. Kekacauan psikologis masyarakat Timur kian terasa, sebab mereka sudah cukup jauh meninggalkan basis peradabannya, yakni hati. Kekacauan psikologis yang dapat dilihat pada tampak-fisik spt perang dan kekacauan sosial itu bisa jadi disebabkan karena mereka kehilangan identitas dan tidak terlalu siap untuk membuka pikiran dan menggunakannya. Mengapa bisa begitu? Kuat dugaan bahwa kebiasaan menggunakan hati yang harus dipakai untuk melakukan adaptasi terhadap materialisme telah menyebabkan timbulnya sebuah peradaban yang wagu: maju tidak, mundur ke keadaan seperti dahulu juga tidak.

Barat tampak berjalan makin kokoh karena telah menemukan penyeimbang. Mereka, seperti dalam permainan go back through door (gobeg sodor) sudah mencapai tembok kejenuhan dan telah melewati titik balik berbekal sepasang sayap yang menyeimbangkan tubuhnya. Sementara di banyak bagian belahan Timur secara kultural berada dalam posisi serba tanggung. Kecuali secara kolektif mereka sadar untuk segera balik ke paradigma lama yang sesungguhnya sudah sangat manusiawi itu, belahan Timur bisa jadi hanya tinggal kenangan. Sebab belahan Bumi Barat sudah mengalami kiamat ketika mereka mentok tak menemukan yang mereka cari, dan mereka malah menemukannya di sisa-sisa peradaban Timur!

Rabu, 22 April 2015

MAHARAJA HARISCHANDRA (11):

MAHARAJA HARISCHANDRA (11):
Tetapi, Maharaja Harischandra masih tetap berkeinginan untuk mempersembahkan sekadar minuman dan buah kepada Maharesi. Dengan hati yang tetap bersih suci, tanpa ganjalan sedikit pun, raja Harischandra berkata dengan tenang, “Duhai maharesi yang hamba hormati…, maafkanlah hamba anda yang bodoh ini. Tanpa sengaja hamba telah berbuat kesalahan kepada anda. Jikalau Anda berkenan menerima minuman dan buah….”
“Tidak…!!” Kata Maharesi dengan nada tinggi.
“Harischandra..., kau jangan mengigau lagi. Kerajaan telah kau berikan seluruhnya kepadaku. Kau tidak berhak menganggap dirimu sebagai pemberi makanan kepadaku. Sekarang, pergilah kamu dari kerajaan ini…”
Mendengar bentakan Maharesi seperti itu, Raja Harischandra menundukkan kepala menyembah, dan bersiap-siap meninggalkan istana bersama anak dan permaisuri. Begitu Harischandra melangkahkan kaki hendak keluar dari kerajaan, Maharesi Vishwamitra kemballi memanggilnya. Para penduduk hatinya merasa lega. Semua mencakupkan tangan sambil berkomat-kamit memuji Tuhan,“Narayana….Narayana….., syukurlah…, Maharesi hanya bercanda …” (11)

Raja brawijaya


Raja brawijaya ( jawa ) bersumpah bersumpah sedang raja dalem sawang ( nusa ) mengutuk akan kembali lagi setelah 500 tahun untuk mengembalikan lagi ajaran budi jika di jawa sabda palon penasehat sedang di nusa dukuh jumpungan yang akan membabarkan ajaran budi jika di jawa ajaran di kenal dengan nama siwa budha tapi di nusa di kenal dengan nama gama tirta jika brawijaya berjanji bertemu kembali setelah 500 tahun di alas purwa tapi di nusa di puncak mundhi.
KEMBALALINYA JAMAN BATU

MAHARAJA HARISCHANDRA (13):

Dharmayasa 
MAHARAJA HARISCHANDRA (13):
Seorang raja yang bukan hanya Raja melainkan Maharajadhiraja, seorang Raja yang bukan hanya luas dalam daerah kekuasaan tetapi juga luas dan mendalam di dalam pandangan sertaberbagai jenis pengetahuan. Seorang raja yang berprinsip suci. Ajeg, teguh dan tidak tergoyahkan sama sekali dari keajegannya berpegang teguh pada jalan Dharma. Walaupun dari seluruh arah terdengar raungan tangis para penduduk yang mencintainya, walaupun di sekitarnya nampak para Senapati yang kuat-kuat pun ternyata tidak kuat menahan tangisnya…, bahkan banyak yang tidak sadarkan diri..., tetapi..., Maharaja Harischandra tidak meneteskan air mata setetes pun. Maharaja Harischandra melangkahkan kakinya perlahan... selangkah demi selangkah ke depan.... dengan mantap... melangkah maju meninggalkan hujan air mata dan tangisan di belakangnya... Demikian pula halnya dengan permaisuri dan putra mahkota yang masih belia, Rahula. Permaisuri raja tampak tersenyum anggun sambil mencakupkan tangan menghormat kepada para dayang dan penduduk lain yang akan ditinggalkannya.
Tidak ada kelihatan di wajahnya sebuah kehilangan, kesedihan, atau pun kemarahan. Sangat damai, sangat tenang. Pandangan matanya yang sangat lembut penuh kasih diarahkan kepada semua dayang-dayangnya...satu persatu... ke arah matanya, namun menyentuh hati setiap dayang-dayang. Mereka semua tidak mampun berkata sepatah kata pun, hanya hati mereka menumpahkan hujan rintihan.... “Jangan pergi Permaisuri.... jangan pergi....” Sedangkan Rahula…, Putra Mahkota kecil Rahula..., masih sempat melirik taman istana tempat bermainnya. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya, melepaskan pegangan tangan ibunya…, ia berjalan pelan, dengan langkah-langkah kaki yang tampak tidak lincah lagi…, ia mendatangi pengasuhnya. Rahula memandangi mata pengasuhnya yang penuh dengan air mata dan tampak berusaha keras menahan tangis…. Akhirnya…, pengasuh itu tidak tahan lagi menahan tangisnya… Ia menangis keras ketika tangan lembut putra mahkota menyentuh dan memeluknya. Permaisuri segera mendatangi putra mahkota Rahula, membujuk dan dengan perlahan melepaskan pelukannya dari badan pengasuhnya. (13)

MAHARAJA HARISCHANDRA

MAHARAJA HARISCHANDRA (12):
Belum selesai mereka berdoa, bersyukur sambil mengagung-agungkan Nama Suci Tuhan..., tiba-tiba semua dikejutkan oleh suara Maharesi Vishwamitra. Suara yang dikeluarkan oleh Maharesi Vishwamitra dan ditujukan kepada Maharaja Harischandra walaupun tidak begitu keras tetapi semua mendengarnya bagaikan suara geledek di langit menggelegar keras. Jantung setiap orang berdebar-debar keras..., dan nafas terasa terhenti. Ada yang matanya terbelalak, ada pula yang menutup matanya sambil bibirnya melanjutkan penyebutan Nama Suci Tuhan Yang Maha Esa. Seketika itu pula mereka semua merasakan seluruh arah menjadi gelap gulita, bagaikan mendung gelap menutupi seluruh arah, menciptakan pemandangan yang gelap gulita. Bagi mereka…, kegelapan itu sebentar lagi akan menurunkan hujan…, yaaa…hujan deraian deras air mata seluruh penduduk…, hujan deras air mata kesedihan seluruh penduduk yang mencintai rajanya, Maharaja Harischandra.
Ketika Maharaja Harischandra mulai melangkahkan kaki untuk meninggakan istana, Maharesi Vishwamitra memanggilnya kembali. Tetapi..., ternyata Maharesi Vishwamitra memanggil Raja Harischandra bukanlah untuk mengenbalikan kerajaannya, melainkan Maharesi berkata keras dan setengah berteriak, ”Harischandra…, sejak kapan engkau menjadi Raja yang bodoh? Engkau telah sumbangkan seluruh kerajaan kepadaku. Tetapi, engkau masih berani membawa perhiasan kerajaanku di badanmu, di badan istrimu…, dan anakmu…??? Tanggalkanlah semua perhiasan itu sebelum kau meninggalkan istana…”
Maharaja Harischandra sepintas tampak terperangah, tetapi cepat menyadari keadaan, akhirnya sambil meminta maaf atas kealpaannya Raja Harischandra menanggalkan segala perhiasan yang melekap di badannya, termasuk perhiasan putra mahkota dan permaisuri. Sekarang…, raja termasyur Harischandra, siap meninggalkan kerajaan hanya dengan selembar pakaian sederhana menutupi tubuhnya. Mereka bertiga, terlebih lagi permaisuri raja, nampak tetap anggun, walaupun hanya berpakaian selembar kain saja. (12)