Sabtu, 02 Mei 2015

SANGHYANG DEDARI

15 jam ·
Sore itu hujan masih saja turun membasahi bumi, ada keraguan untuk berangkat ke Karangasem mengabadikan tarian ini atau menunggu tahun depan.
Kesepakatan akhirnya memutuskan untuk "gambling" coba saja berangkat kalau tetap hujan dan tidak menari paling tidak kita tahu lokasi desanya dimana, karena jujur saya sama sekali belum pernah kesana.
Setengah tujuh malam ketika kami sampai disana, tanah masih basah dan hujan masih rintik rintik, kami bertemu dengan 3 anak perempuan yang sedang sembahyang ke Pura Puseh, ternyata dua diantara mereka adalah penari Sanghyang Dedari sedangkan satunya lagi adalah perias mereka, dari mereka kami mendapatkan konformasi bahwa mereka akan menari sekitar pukul 20.00 WITA. ketika kami mohon iji untuk boleh memotret saat mereka di rias mereka dengan senang hati mempersilahkan datang ke rumah salah satu penari tersebut dimana mereka akan dirias.
Perasaan senang dan gembira ketika kami sampai di rumah itu bertemu dengan orang tua mereka dan mengobrol bersama mereka serta kami di berikan nomor HP beliau untuk bisa di kontak sewaktu waktu ada acara budaya disana, ternyata masyarakat disana senang bisa menerima teman teman seperti kami untuk bisa mengabadikan budaya mereka yang hampir punah ini.
Jam delapan lebih sedikit ke empat penari cilik ini di ajak ke salah satu pura untuk "ngukup" yaitu untuk memanggil roh suci Bidadari untuk emrasuki raga mereka, hanya yang perempuan saja boleh masuk dan menemani mereka sedangkan yang laki harus menunggu di luar.
Sangyang dedari
Di tarikan oleh 4 orang gadis yang belum menginjak dewasa, yang juga di mohonkan untuk menari di batang bambu yang menjulang kurang lebih 7 mtr dengan iringan lagu rohani pula.
Tarian sakral ini di tujukan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang turun bermanipestasi sebagae Dewi Seri agar melimpahkan karuniaNya pada Padi padi yang di tanam dengan hasil yang melimpah tanpa hama.
Setelah kurang lebih 20-30 menit di dalam Pura tiba tiba para wanita separuh baya berlarian sambil menggotong penari penari ini yang sudah tidak sadarkan diri untuk dibawa ke perempatan. Setelah semua disiapkan sedemikian rupa, mulailah para ibu ibu bernyanyi menyanyikan lagu-lagu lama dengan berbahasa Bali tanpa musik satupun.
Para penari mulai berdiri dan berlarian tanpa alas kaki di tanah berbatu ...kemudian taraian mereka pun terlihat , merunduk, mengepakkan sayap dgn mata tertutup.
Para penari ini sangat peka ..sedikit saja ada suara maka mereka atau salah satu diantara mereka akan mencari sumber suara tersebut dan mengibaskan selendangnya untuk tidak bersuara, atau saat salahs atu dari kami berdiri untuk mengambil gambar dgn angel atas mereka datang dan mengibas ngibaskan seendangnya untuk duduk tidak boleh berdiri. Tetua yang ada di sebelah saya mengatakan ketika Dedari itu menghampiri dna mngibaskan selendangnya kita harus mengikuti kalau tidak mereka akan ngambek atau pergi dan tidak mau menari.....
Lampu yang ada hanyalah lampu satu lampu mercuri sebagai peneranagn disana, kami sama sekali tidak diijinkan untuk menggunakan flash/cahaya karena akan mengganggu prosesi acara mereka.
Beberapa lelaki datang membantu dgn membawa dua bamboo berukuran besar danntinggi antara 7-8 meter dan di pancangan di tanah..dua penari Sanghyang dedari kemudian menghampiri bambu tersebut dan mulai memanjat dengan lincahnya.. dan sesampai di atas mereka menari tanpa takut akan jatuh. Setelah itu sekitar 35-45 menitan bambu tersebut di terlentangkan dna para penari menari dgn gaya kayang dgn kegemulaian badannya.
Sekitar 15 menit gerakan tersebut dilakukan bergantian, tiba -tiba mereka berlarian menuju ke arah salah satu pura kurang lebih 100m dari tempat kami memotret, jalannya gelap dan berbatu serta tidak rata. Kami membayangkan bagaimana mereka bisa berlari dgn mata tertutup di bebatuan tersebut menuju pura tanpa satupun penerangan, sedangkan kami ketika mengikuti dgn berjalan kaki dan memakai senter saja kesusahan, rasa penasaran dan suasana magis masih terasa ketika kami sampai di Pura.
Para Dedari ini berlarian dan berlompatan menaiki tembok tebok pembatas pura, dan anehnya tidak satupun kaki mereka terluka setelah berlari tadi.
Kurang lebih 20 menit prosesi di pura ini kemudian mereka di sadarkan dengan memercikkan air suci dari pemangku setempat, terlihat kelelahan di mata mereka.
Kami pamit pulang sekitar jam 23.26 dari lokasi ini.
Sebuah desa yang asri dengan penduduk yang ramah....kami akan kembali.
Semua poto poto disini diambil dengan camera SONY ILCE 6000
Lensa fix 35

'Gearkan kayang di Bambu'




sumber Yan Gunayasa fb 


Sanghyang Dedari yang menjadi impian akhirnya kesampaian bahkan di undang ke rumahnya utk mengabadikan moment sebelum mereka trance. Merasakan suasana magis di gelapan malam dan melihat bagaimana trance itu terjadi dan melakukan hal hal yg mustahil ketika mrk sadar. Acara mulai cukup malam jam 8.30 malam sd jam 10.30 malam. Tapi tetap saya harus kembali lagi kesini kalo diijinkan oleh Hyang Widhi Wasa dan kel tercinta. Terimakasih buat bli Kadek Asek untuk info dan tumpangannya, jro mangku alit Rare Bali untuk info nya juga tidak lupa jro Gd Karang Wiratmaja dan jik Ida Ida Bagus Alit utk info awalnya. Tidak lupa mba Irma Kim untuk kue yg enak dan mineral waternya. Next kita ksn mba.



15
Suka · K
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar